Spektrofotometer

Laporan Praktikum                                  Hari/Tanggal: Senin/ 25-02-2013

Struktur Fungsi Subseluler                        Waktu         : 08.00-11.00 WIB

PJP              : Syaefudin, M.Si.

Assisten       : Tuhfah Amaliah

Risky Wulansari

                Suhermanto

Azra Zahra N.I.

 

 

 

PENDAHULUAN DAN PENGENALAN ALAT

(SPEKTROFOTOMETER)

 

Kelompok 6

 

I D.A. Ayu Carlita A.              G84110080

Machzani Quraitul A.                G84110009

Ema Lindawati                          G84110010

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN BIOKIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2013

Pendahuluan

            Bahan kimia pada suatu sampel memiliki kandungan berbeda satu sama lain. Beer dan Lambert menemukan hukum bahwa bahan kimia memiliki interaksi yang khas terhadap gelombang elektomagnetik (cahaya). Hukum ini terus berkembang di bidang analisis kimia, sehingga dibutuhkan suatu alat untuk mendukung analisis ini, yaitu spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan metode analisis kuantitatif yang didasarkan pada besarnya nilai absorbsi suatu zat terhadap radiasi sinar elektromagnetik (Khopkar 2007).

Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometri digunakan untuk mengukur transmitan atau absorban dari suatu sampel yang dinyatakan sebagai fungsi panjang gelombang. Alat ini bekerja dengan prinsip penyerapan sinar oleh bahan kimia pada panjang gelombang tertentu (Rohman 2007). Sebagian sinar pada spektrofotometer yang jatuh pada sampel larutan homogen akan dipantulkan, sebagian lagi akan diserap ke dalam medium, dan sisanya akan diteruskan. Sinar yang diteruskan ini akan dibaca oleh alat spektrofotometer sebagai nilai absorbansi sehingga bisa menentukan konsentrasi dari medium tersebut (Ali 2005).

Gambar Spektrofotometer

            Alat ini menggunakan lampu Deuterium sebagai sumber radiasi dengan panjang gelombang dari radiasi ultraviolet sampai 350 nm, atau menggunakan lampu filamen untuk sinar tampak sampai inframerah. Sumber radiasi ini mengeluarkan sinar dalam bentuk polikromatik. Namun, spektrofotometer hanya bisa menerima cahaya monokromatik, sehingga sinar polikromatik tersebut perlu dikonversikan menjadi sinar monokromatik (Rohman 2007).

Spektrofotometer terdiri dari berbagai jenis, diantaranya spektrofotometer serapan (AAS) dan spektrofotometer inframerah. Spektrofotometer AAS memiliki kepekaan yang tinggi dan biasa digunakan untuk menganalisa unsur-unsur logam dan semi logam dalam jumlah renik. Spektrofotometer inframerah berfungsi untuk mengidentifikasi senyawa organik maupun anorganik berdasarkan absorbsi gugus fungsional terhadap radiasi inframerah (Skoog 2001).

Kurva standar didapat melalui pembuatan larutan standar. Kurva ini berfungsi untuk menentukkan panjang gelombang maksimum dari larutan standar tersebut. Panjang gelombang yang dihasilkan spektrofotometer akan diserap media tertentu tergantung pada senyawa atau zat warna yang terkandung di dalamnya. Metilen biru (C16H18N3SCl) merupakan zat warna thiazine yang sering digunakan untuk penentuan absorbansi karena harganya terjangkau dan mudah diperoleh (Keenan 1992).

Percobaan mengenai pengenalan alat-alat laboratorium seperti spektrofotometer bertujuan untuk memahami cara penggunaan dan pengoperasian, prinsip kerja alat, serta perawatan spektrofotometer. Hal ini dilakukan agar praktikan mampu mengukur absorbansi larutan dengan alat spektrofotometer.

 

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam pengenalan spektrofotometer adalah Spektronik 20, kuvet, tabung reaksi, pipet volumetri 10 mL, bulb, gelas kimia, dan tissue. Bahan yang digunakan dalam pengenalan spektrofotometer adalah metilen biru dengan berbagai konsentrasi dan aquades.

 

Prosedur Percobaan

Penggunaan Spektrofotometer. Penggunaan Spektrofotometer diawali dengan penyiapan larutan metilen biru pada berbagai konsentrasi. Nyalakan alat ini dengan menekan tombol POWER atau ZERO dan biarkan selama 15 menit untuk pemanasan. Larutan dengan konsentrasi 6.10-5 N diencerkan dengan air destilata bertindak sebagai blanko agar  panjang gelombang maksimal dari metilen biru dapat diketahui. Kemudian, larutan tersebut diletakkan dalam alat shaker agar bersifat homogen. Larutan 6.10-5 N akan diukur pada berbagai panjang gelombang, yaitu 600 nm sampai 680 nm dengan selang 10 nm setiap pengukuran. Pilih tombol WAVELENGTH untuk pengaturan gelombang. Wadah sampel yang kosong dan penutup yang tertutup dimasukkan kedalam spektofotometer. Kemudian gunakan tombol ZERO untuk menyesuaikan meter menjadi nol atau maksimum absorban (0% transmitan). Larutan blanko diletakkan kedalam wadah sampel setelah meter menunjukkan absorban pada 0 (100% transmitan), tekan tombol TRANSMITTANCE atau ABSORBANCE sehingga panjang besaran gelombang maksimum dapat ditentukan. Larutan-larutan lain yang telah diencerkan sebelumnya diukur pada panjang gelombang maksimal tersebut. Setelah itu tekan tombol ENTER dan lihat angka yang terdapat pada layar digital spektrofotometer. Catat angkat tersebut sebagai nilai absorban.

 

Hasil Percobaan

Tabel 1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimal

Panjang Gelombang (nm)

Absorbansi

600

2,187

610

2,356

620

2,342

630

2,361

640

2,570

650

2,778

660

2,801

670

2,365

680

1,384

 

 

Gambar 1 Kurva Hubungan Panjang Gelombang dan Absorban

 

Tabel 2 Pembuatan Kurva Standar

Absorbansi (A)

[Metilen Blue] [M]

0,946

2  10-5

1,745

4  10-5

2,604

6  10-5

2,794

8  10-5

3,000

1  10-4

 

 

 

Gambar 2 Kurva Hubungan Konsentrasi Metilen Biru dengan Absorban

 

 

 

Contoh Perhitungan

  • Perhitungan volume metilen biru saat pengenceran

Dik      : Vtotal = 5 ml ; konsentrasi metilen biru (N2) = 1. 10-4

Dit       : Vmetilen biru…?

Jawab :

Vtotal . N1   = V2 . N2

5 mL  6.10-5 = V2 . 10-4

                                       V2   = 3 mL

Jadi, metilen biru yang ditambahkan sebanyak 3 ml dan aquades sebanyak 2 ml, sehingga volume total yang didapat adalah 5 ml.

 

Tabel 3 Pengkuran Sampel

Absorbansi (A)

[metilen biru] (M)

1,282

2,37  10-5

1.280

2,36  10-5

1,361

2,68  10-5

rerata

2,47  10-5

 

 

 

Contoh Perhitungan :

  • Persamaan regresi linier : y = a + bx

Keterangan :

y = nilai absorban

x = konsentrasi larutan

 

Persamaan garis yang didapat :

y   = 0,6707 + 25.785x

misal y = 1,282 à 1,282 =  0,6707 + 25.785x

0,6113 = 25.785x

x   = 2,37  10-5 M

Berdasarkan persamaan garis yang didapat melalui kalkulator, konsentrasi metilen biru pada saat 1,282 A adalah 2,37  10-5 M.

Pembahasan

Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat walaupun tidak ada medium. Energi elektromagnetik dapat merambat melalui  beberapa parameter yang bisa diukur, yaitu : panjang gelombang, frekuensi, amplitudo, dan kecepatan. Panjang gelombang suatu alat dapat diserap oleh molekul-molekul yang memiliki kandungan zat warna. Suatu larutan akan menghasilkan warna komplementer yang dapat menyerap cahaya. Warna-warna ini ditimbulkan oleh adanya panjang gelombang yang dimiliki larutan tersebut. Setiap warna memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda dengan interval tertentu (Skoog 2001).

Spektrofotometer bekerja prinsip penggunaan cahaya monokromatik maupun campuran. Cahaya itu jatuh pada suatu medium homogen dengan sebagian dari sinar masuk akan dipantulkan, sebagian di serap dalam medium, dan sisanya diteruskan. Nilai yang keluar dari cahaya yang diteruskan tersebut dinyatakan sebagai absorbansi karena memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel. Studi spektrofotometri dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Hukum Beer menyatakan absorbansi cahaya berbanding lurus dengan konsentrasi dan ketebalan bahan atau medium. Hukum Lambert-Beer memiliki beberapa persyaratan, antara lain radiasi yang digunakan harus monokromatik, energi radiasi yang di absorpsi oleh sampel tidak menimbulkan reaksi kimia, sampel (larutan) harus bersifat homogen, tidak terjadi flouresensi atau phosphoresensi, dan indeks refraksi tidak berpengaruh terhadap konsentrasi (Ali 2005).

Percobaan pertama ialah penentuan panjang gelombang maksimum pada larutan metilen biru dengan konsentrasi sebesar 6  10-5 M. Larutan tersebut diencerkan lalu diukur nilai absorbansinya dengan spektrofotometer pada berbagai panjang gelombang, yaitu 600 nm sampai 680 nm dengan interval 10 nm tiap pengukuran. Setelah dilakukan pengukuran, nilai absorbansi tertinggi larutan tersebut adalah 2,801 A dan berada saat panjang gelombang 660 nm. Hasil pada skala tersebut menunjukkan panjang gelombang maksimum yang akan digunakan pada larutan metilen biru lain dengan konsentrasi yang berbeda. Panjang gelombang maksimum yang didapat pada percobaan ini sudah sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa zat warna biru metilen memiliki panjang gelombang maksimum sebesar 660 nm (Hafni 2009). Selain itu, zat warna biru metilen juga memiliki kegunaan dalam berbagai bidang, misalnya biokimia. Pada bidang ini, biru metilen berfungsi dalam pewarnaan sel, sehingga akan mempermudah dan memperjelas praktikan dalam mengamati struktur dari suatu sel.

Percobaan kedua adalah menentukan absorbansi dari berbagai konsentrasi metilen biru pada panjang gelombang 660 nm. Larutan metilen biru yang digunakan memiliki variasi konsentrasi, yaitu 0,00002 M, 0,00004 M, 0,00006 M, 0,00008 M, dan 0,0001 M. Setelah diukur dengan spektrofotometer, absorbansi yang didapat berturut-turut ialah 0,946 A, 1,745 A, 2,604 A, 2,794 A, dan 3,000 A. Setelah data-data absorbansi pada berbagai konsentrasi metilen biru didapat,  kurva standar dapat dibuat dengan meletakkan konsentrasi metilen biru pada sumbu x dan jumlah cahaya yang diserap atau absorban pada sumbu y. Berdasarkan perhitungan melalui kalkulator, intercept yang didapat ialah sebesar 0,6707 dan nilai slope sebesar 25.785. Jika nilai-nilai tersebut dituliskan dalam persamaan regresi liner, maka persamaan garis yang didapat adalah y = 0,6707 + 25.785x.

Persamaan garis linier yang didapat tersebut digunakan untuk menentukan konsentrasi sampel pada berbagai nilai absorbansi. Fungsi y pada persamaan regresi menunjukkan nilai absorban dan fungsi x menyatakan konsentrasi sampel. Data absorbansi yang diperoleh ialah 1,282 A, 1,280 A, dan 1,361 A. Jika nilai absorban tersebut dimasukkan kedalam fungsi persamaan garis, maka konsentrasi sampel dapat diketahui dan nilai konsentrasi sampel secara berturut-turut adalah  2,37  10-5 M, 2,36  10-5 M, dan 2,68  10-5 M dengan rerata 2,47  10-5 M.

Kesalahan sistematik dalam analisis menggunakan spektrofotometer sering terjadi yang biasanya disebabkan karena beberapa faktor. Faktor pertama ialah tidak dilakukannya proses kalibrasi alat, sehingga tingkat akurasi selama pengukuran berlangsung akan berkurang. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blanko, yaitu larutan yang berisi matrik selain komponen yang akan dianalisis. Faktor kedua ialah serapan oleh kuvet. Kuvet yang biasa digunakan adalah dari bahan gelas atau kuarsa. Kuvet kuarsa memberikan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan kuvet dari bahan gelas, namun harganya jauh lebih mahal. Serapan oleh kuvet ini diatasi dengan penggunaan jenis, ukuran, dan bahan kuvet yang sama untuk tempat blangko dan sampel. Faktor ketiga yaitu adanya fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi yang sangat rendah atau sangat tinggi. Hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan (melalui pengenceran atau pemekatan) (Beran 1996). Faktor terakhir adalah ketidaktahuan praktikan dalam menggunakan spektrofotometer dan kuvet dengan benar. Membuka tutup spektrofotometer yang terlalu lama menyebabkan cahaya yang ada di lingkungan dapat masuk ke dalam alat sehingga menyebabkan penyerapan cahaya oleh sampel menjadi berlebihan. Peletakkan kuvet yang tidak sesuai standar, misalnya bagian halus berada terbalik dengan seharusnya dapat menjadi penghalang terserapnya cahaya ke dalam sampel. Hal-hal seperti ini dapat dihindari dengan mengetahui cara penggunaan spektrofotometer dan bagian-bagiannya secara jelas.

 

Simpulan

            Spektrofotometer digunakan untuk mengukur absorban dari suatu sampel yang dinyatakan sebagai fungsi panjang gelombang. Panjang gelombang maksimum yang dihasilkan zat warna metilen biru adalah 660 nm. Kurva standar dapat diperoleh melalui hubungan konsentrasi sampel terhadap absorbans. Persamaan garis linier dari kurva standar berfungsi untuk menentukan konsentrasi sampel pada berbagai nilai absorbansi.

           

Daftar Pustaka

Ali, Muhammad. 2005. Handbook of Industrial Chemistry Organic Chemicals. Sydney : The McGraw-Hill Companies, Inc.

Beran, J. 1996. Kimia Analitik 2. Jakarta : Erlangga.

Hafni, C. 2009. Penuntun Praktikum Instrumen Analisis I. Padang : ATIP.

Keenan R. 1992. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

Khopkar S. 2007. Konsep Dasar kimia Analitik. Jakarta : UI Press.

Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Skogg. 2001. Analytical Chemistry. Florida: Sounders College.

 

Sentrifus dan pH meter

Laporan Praktikum                                 Hari/Tanggal: Senin/ 18-02-2013

Struktur Fungsi Subseluler                   Waktu         : 08.00-11.00 WIB

PJP              : Syaefudin, M.Si.

Assisten       : Risky Wulansari

                                                                                                  Tuhfah Amaliah

Suhermanto

Azra Zahra N.I.

 

 

PENDAHULUAN DAN PENGENALAN ALAT

(Sentrifus dan pH meter)

Kelompok 6

 

I D.A. Ayu Carlita A.              G84110080

Machzani Quraitul A.                G84110009

Ema Lindawati                          G84110010

DEPARTEMEN BIOKIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2013

Pendahuluan

            Laboratorium memiliki berbagai macam alat-alat yang biasa digunakan oleh mahasiswa untuk melakukan percobaan, penelitian, dan lain sebagainya. Alat-alat tersebut mempunyai perbedaan kriteria terhadap cara penggunaan, prinsip kerja, serta perawatannya. Pengenalan alat-alat yang terdapat di laboratorium seperti sentrifus dan pH meter sangat dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mempermudah proses penelitian serta membantu keberhasilan mereka dalam pengolahan data.

Sentrifus adalah alat yang bekerja dengan metode sentrifugasi. Teknik pemisahan analat dari matriks sampel berdasarkan berat molekul dengan kecepatan dan waktu tertentu yang digunakan untuk memisahkan atau memurnikan protein, partikel, dan organel selular serta bersedimentasi menurut ukuran dan bentuk relatifnya disebut sentrifugasi (Bintang 2010).

Gambar 1. Sentrifus Beckman

Suatu zat yang telah tercemar zat-zat lain pada umumnya dapat membentuk campuran homogen ataupun heterogen. Campuran heterogen adalah campuran yang membentuk dua fasa atau lebih dan memiliki batasan-batasan yang jelas diantara fase-fase tersebut, misalnya campuran minyak dengan air. Campuran homogen adalah campuran yang memiliki satu fase, misalnya campuran antara garam dapur dengan air. Campuran homogen ataupun heterogen tersebut dapat dipisahkan melalui beberapa proses, salah satunya adalah dengan teknik sentrifugasi.

Indikator derajat keasaman dari suatu larutan disebut pH sedangkan alat digital yang berfungsi untuk mengukur pH disebut pH meter. Suatu larutan bersifat netral jika pH pada larutan tersebut sama dengan 7, dikatakan asam jika pH larutan kurang dari 7, dan dikatakan basa jika pH larutan lebih besar dari 7. Pengukuran pH suatu larutan dengan alat ini lebih akurat dibandingkan dengan menggunakan indikator universal.

Gambar 2. pH meter

Keakuratan pH meter dalam mengukur derajat keasaman tersebut dapat terjamin dengan melakukan kalibrasi secara periodik (Yuwono 2010).  Prinsip kalibrasi pH meter adalah dengan menggunakan larutan buffer yang pHnya telah diketahui. Proses ini biasanya menggunakan titik-titik pada rentang ukur antara larutan asam dan basa. Suatu slope akan didapatkan dari hasil kalibrasi tersebut sehingga  menunjukkan tingkat keakuratan pH meter (Bernasconi 1995).

Tujuan Percobaan

Percobaan mengenai pengenalan alat-alat laboratorium seperti pH meter dan sentrifus bertujuan untuk memahami cara penggunaan dan pengoperasian, prinsip kerja alat, serta perawatan pH meter dan sentrifus. Hal ini dilakukan agar praktikan mampu mengukur pH larutan dengan alat pH meter serta terampil melakukan pemisahan suatu campuran dengan metode sentrifugasi.

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam pengenalan pH meter ialah labu takar 50 mL dan 100 mL, pipet volumetrik 10 mL dan 25 mL, gelas piala 150 ml dan 250 mL, gelas pengaduk, neraca analitik, dan pH meter. Alat-alat yang digunakan pada pengenalan sentrifus ialah sentrifus Beckman JA-20, tabung Eppendorf, pipet tetes, gelas piala 50 mL,dan neraca analitik.

Bahan yang digunakan dalam pengenalan pH meter ialah larutan ialah kristal fosfat, kristal asam sitrat, dan air destilata, sedangkan bahan yang digunakan untuk pengenalan sentrifus ialah suspensi kloroplas dan akuades.

 

Prosedur Percobaan

Penggunaan pH meter. Penggunaan pH meter diawali dengan pembuatan 50 ml fosfat 0,2 M dan 100 ml asam sitrat 0,1 M dengan mengonversikan kedua senyawa itu kedalam satuan gram. Hal ini harus dilakukan karena fosfat dan asam sitrat tersebut masih dalam bentuk kristal dan harus dilarutkan dengan akuades. Hasil konversi molaritas dari larutan fosfat 0,2 M sebanyak 50 mL ialah sebesar 1,4196 g dan 2,1014 g untuk larutan sitrat 0,1 M sebanyak 100 mL. Setelah itu, dengan menggunakan pipet volumetri, ambil 35 ml fosfat 0,2 M dari volume total 50 mL dan 65 ml asam sitrat 0,1 M dari volume total 100 mL. Kemudian, kedua larutan tersebut dicampurkan dan dihomogenisasikan dalam erlenmeyer. Hasil pencampuran kedua larutan itu disebut larutan uji yang akan diukur derajat keasamannya. Sebelum melakukan pengukuran, pH meter yang akan digunakan harus distandardisasi terlebih dahulu dengan larutan yang nilai pH 7 dan pH 4. Elektroda pada pH meter dimasukkan pada larutan tersebut, kemudian diangkat lagi dan diseka dengan tissue tanpa serat. Ambil larutan uji, kemudian ukur derajat keasaman larutannya dengan memasukkan elektroda kedalam gelas kimia. Lihat angka yang tertera pada layar digital pH meter dan catatlah angka tersebut sebagai nilai pH dari larutan uji.

Penggunaan sentrifus. Tabung Eppendorf kosong ditimbang terlebih dahulu dengan neraca analitik. Saat melakukan penimbangan, tutup tabung Eppendorf tersebut hendaknya dibuka agar udara disekitar tabung tidak memengaruhi massanya. Tahap selanjutnya ialah pemindahan suspensi kloroplas ke dalam tabung Effendorf sebanyak 20 g. Massa tabung Eppendorf yang telah terisi larutan suspensi tersebut kemudian ditimbang kembali. Catat massa hasil penimbangan. Tabung Eppendorf kosong yang lain ditimbang juga dengan neraca analitik. Air destilata ditimbang dengan tabung tersebut dalam massa yang sama dengan tabung pertama. Tabung ini berfungsi sebagai penyeimbang dalam rotor. Tempatkanlah kedua tabung pada tempat yang berlawanan dalam rotor sentrifus yang telah didinginkan sebelumnya. Putarlah sentrifus pada kecepatan 1200 x g selama 10 menit. Supernatan yang terpisah dengan pelet kemudian di dekantasi ke wadah lain. Timbanglah massa pelet yang didapat.

 

Hasil Percobaan

Tabel 1 Hasil Sentrifus Suspensi Kloroplas

Sampel

Bobot Tabung (g)

Bobot Tabung + Kloroplas (g)

Bobot Suspensi Kloroplas (g)

Bobot Tabung + Pelet (g)

Bobot Pelet (g)

% Rendemen

1

16,31

36,21

20,00

16,95

0,64

0,32

2

16,31

36,21

20,00

16,95

0,64

0,32

3

15,67

35,67

20,00

15,83

0,16

0,80

4

16,28

36,78

20,00

17,87

1,59

7,95

Rataan

Contoh Perhitungan (data pada sampel 2) :

Bobot Pelet =  (Bobot Tabung + Pelet)  Bobot Tabung

=   16,95 g  16,31 g

=   0,64 g

Tabel 2 Penggunaan pH Meter

Sampel

pH indikator

pH di pH meter

1

4,0

 3,90

2

4,0

3,93

3

4,0

3,86

4

4,0

3,81

Rata-rata

 4,0

3,87

 

Pembahasan

            Alat laboratorium yang bernama sentrifus bekerja dengan metode sedimentasi untuk memisahkan partikel-partikel dari suatu fluida berdasarkan berat jenisnya dengan memberikan gaya sentrifugal pada kecepatan tinggi. Sentifugal adalah suatu gaya yang terjadi akibat adanya putaran dengan arah yang berasal dari titik pusat putaran dan keluar menuju jari-jari luar (Robinson 1975). Nilai yang diberikan untuk gaya pada partikel biasanya bersifat relatif jika dibandingkan dengan gaya tarik gravitasi bumi yang juga berlaku pada partikel tersebut. Menurut Bintang (2010), gaya itu disebut gaya sentrifugal relatif (relative centrifugal force, RCF) sebagai rasio gaya sentrifugal (G) terhadap konstanta gravitasi (g). Gaya ini tidak memiliki satuan, namun biasa dinyatakan dengan simbol g. Kecepatan pengendapan pada operasi sentrifugasi dipengaruhi oleh kecepatan sudut (ω) rotor dan jarak radial (r) partikel dari sumbu rotasi. Besarnya kecepatan putar yang digunakan sentrifus dalam satu menit dinyatakan sebagai RPM (revolution per minute) (Bintang 2010).

Proses sentrifugasi bertujuan untuk memisahkan sel menjadi organel-organel utama sehingga fungsinya dapat diketahui (Miller 2000). Perbedaan densitas, bentuk, dan ukuran pada partikel atau organel dapat dipisahkan karena akan mengendap pada laju yang berbeda (Bintang 2010). Sentrifus bekerja seperti komedi putar. Prinsipnya yaitu dengan meletakkan sampel dalam rotor pada suatu gaya yang diputar dengan kecepatan tinggi secara horizontal, sehingga terjadi pengendapan partikel atau organel-organel sel berdasarkan bobot molekulnya (Yuwono 2010). Setelah proses sentrifugasi berakhir, akan terbentuk dua lapisan yang terpisah, yaitu supernatan dan pelet. Supernatan adalah substansi hasil sentrifugasi yang memiliki bobot jenis rendah, sehingga posisi supernatan pada tabung Eppendorf akan berada pada lapisan atas dan warnanya lebih jernih. Sementara pelet adalah substansi hasil sentrifugasi yang memiliki bobot jenis yang lebih tinggi. (Miller 2000). Posisi pelet setelah proses sentrifugasi akan berada pada bagian bawah (berupa endapan) dan warnanya lebih keruh. Setelah kedua substansi itu terpisah, maka supernatan dapat dapat dibuang dengan cara dekantasi atau disedot dengan pipet secara hati-hati untuk mendapatkan pelet dengan massa tertentu. Hasil penimbangan massa pelet yang didapat kemudian dihitung sebagai persen rendemen dengan membagi nilai tersebut terhadap bobot suspensi kloroplas awal, yaitu sekitar 20 g.

Percobaan dengan larutan suspensi kloroplas dilakukan melalui kelompok-kelompok yang berbeda sehingga didapatkan empat data bobot pelet sebagai rendemen. Besarnya persen rendemen tiap kelompok bervariasi. Pada kelompok 1 dan kelompok 2, persentase masing-masing rendemen yang didapat adalah 0,32% b/b, pada kelompok 3 ialah sebesar 0,80% b/b, dan kelompok 4 sebesar 7,95% b/b. Menurut Hendra (1989), rendemen pelet adalah kadar pelet di dalam larutan suspensi yang dinyatakan dengan persen. Bila rendemen pelet yang didapat praktikan ialah 0,32%, maka dari 20 g suspensi kloroplas yang digunakan akan diperoleh pelet sebanyak 0,32 g.

Besarnya rendemen yang didapat tiap kelompok berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu proses dekantasi yang tidak tepat dan pengunaan sentrifus yang tidak sesuai prosedur. Saat proses dekantasi berlangsung, seharusnya hanya supernatannya saja yang terbuang. Namun, karena supernatan yang didapat tidak terpisah sempurna dengan pelet, maka pelet yang bersedimentasi tersebut ikut terbuang bersama supernatan. Hal inilah yang bisa menurunkan persentase rendemen. Penggunaan sentrifus yang tidak sesuai dengan petunjuk, seperti pengaturan waktu dan kecepatan yang tidak sesuai dengan suspensi yang digunakan juga memengaruhi hasil rendemen yang didapat.

Kesalahan-kesalahan seperti ini dapat dihindarkan dengan memperhatikan prosedur pengunaan sentrifus secara tepat. Bobot tabung Eppendorf yang terisi suspensi kloroplas harus dalam kondisi seimbang dengan bobot tabung lainnya saat diletakkan berhadapan di dalam rotor. Hal ini berujuan agar gaya sentrifugal pada sentrifus menjadi seimbang. Keseimbangan tersebut akan memengaruhi kecepatan rotor. Menurut Robinson (1975), jika tidak dalam keadaan seimbang, maka  suspensi dalam rotor tersebut menjadi  rusak dan bahkan bisa terlempar ke luar bila sentrifus tidak terkunci rapat karena timbulnya presisi. Kemudian, sentrifus harus berada dalam keadaan vakum sebelum digunakan supaya tidak ada  gesekan dengan udara dan suhu tidak naik ketika rotor sedang berputar. Setelah supernatan dan pelet terpisah, hendaknya jangan diguncangkan atau jangan dikocok-kocok lagi. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari bercampurnya pelet dengan supernatan sehingga mempermudah proses dekantasi. Kecepatan tinggi dalam hitungan menit yang digunakan untuk pemisahan suatu substansi bisa menyebabkan mesin sentrifus menjadi panas. Oleh karena itu, kondisi sentrifus sebelum dijalankan harus dalam suhu rendah.

Sesuai dengan prinsip sentrifugasi yang didasarkan atas fenomena pengendapan suatu partikel tersuspensi dalam suatu wadah ke dasar wadah karena adanya pengaruh  gravitasi (Yuwono 2010), ternyata sentrifugasi memiliki manfaat yang signifikan. Pemisahan gravitasi sederhana, misalnya dengan meletakkan sampel pada rak tabung, memerlukan waktu dalam orde jam untuk dapat menghasilkan endapan. Sedangkan proses sentrifugasi hanya memerlukan waktu dalam orde menit atau detik untuk pemisahan suatu substansi, sehingga dapat mempercepat proses pengendapan.

Alat kedua yang digunakan praktikan ialah pH meter. Instrumen ini berfungsi untuk mengukur pH atau derajat keasaman suatu larutan (Beran 1996). Sebelum digunakan, pH meter harus di kalibrasi terlebih dahulu agar data pH yang didapat menjadi lebih akurat. Proses ini dapat dilakukan dengan larutan standar pada pH 4,  pH 7, atau pH 10. Kalibrasi dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu (1) metode satu titik pada sekitar pH yang akan diukur, misalnya kalibrasi dengan buffer standar pH 4,01 untuk sistem asam, buffer standar pH 7,00 untuk sistem netral, dan buffer standar pH 10,01 untuk sistem basa, (2) metode dua titik yang lebih diutamakan pengunaannya jika sistem bersifat asam, maka digunakan 2 buffer standar berupa pH 4,01 dan 7,00. Apabila sistem bersifat basa, digunakan 2 buffer standar berupa pH 7,00 dan 10,01, dan (3) metode multi titik yang dilakukan dengan menggunakan 3 buffer standar (Beran 1996)

Berdasarkan metode tersebut, praktikan hanya menggunakan salah satu dari ketiga metode yang ada, yaitu  metode dua titik.  Dengan metode ini, praktikan akan memperoleh data pH dalam bentuk pH terukur (menggunakan pH meter) dan pH universal (menggunakan indikator universal). Percobaan ini menggunakan dua larutan, yaitu larutan fosfat dan larutan asam sitrat dan pengukuran dilakukan dengan empat sampel yang semua pH indikatornya sama, yaitu pH 4,0. Setelah dilakukan pengukuran dengan pH meter, hasil tiap sampel berbeda-beda, yaitu (1) pH 3,90; (2) pH 3,93; (3) pH 3,86; dan (4) pH 3,81. Nilai pH yang terbaik ialah pada sampel 2 karena mendekati nilai pH indikator saat dikalibrasi, yaitu pH 4,0.

Selain keakuratannya, pengukuran pH dengan pH meter ternyata memiliki manfaat berupa prosedur yang lebih mudah dan praktis. Hal ini muncul karena praktikan hanya perlu mempersiapkan larutan yang akan uji dan membaca angka digital yang tertera pada pH meter. Jika menggunakan kertas indikator, besarnya pH yang didapat ialah berdasarkan perubahan warna ketika dicelupkan kedalam larutan uji dan pH larutan tersebut diukur dengan memperkirakan persamaan warna yang terdapat pada kertas indikator universal  dan tabel warna pada kertas pH.

Simpulan

            Berdasarkan praktikum ini, sentrifus digunakan untuk mengendapkan suspensi kloroplas agar  pelet dapat terpisah dari supernatan. Bobot pelet yang didapat tersebut bisa dikonversikan dalam persen rendemen dengan membagi bobot pelet terhadap bobot suspensi kloroplas. Alat kedua yang digunakan praktikan ialah pH meter. Proses kalibrasi alat ini menggunakan metode dua titik karena memakai larutan fosfat dan asam sitrat. Nilai pH terbaik yang terukur melalui pH meter ialah yang mendekati 4,0 karena pH indikator yang digunakan semua sampel adalah pH 4,0.

 

Daftar Pustaka

Beran JA.1996. Chemistry In The Laboratory. John Willey & Sons : Prentice Hall.

Bernasconi G. 1995. Teknologi Kimia I. Lienda Handono, penerjemah. Jakarta. Pradya Paramita.

Bintang M. 2010. Biokimia – Teknik Penelitian. Jakarta: Erlangga.

Hendra A. 1989. Teknik pemisahan dalam Analisis Biologis. Bogor: IPB Press.

Miller J.N. 2000. Statistics and Chemometrics for Analytical Chemistry, 4th ed. Harlow: Prentice Hall.

Robinson J.R. 1975. Fundamental of Acid-Base Regulation, 5th edition. Oxford: Blackwell Scientific Publication.

Yuwono T. 2010. Biologi Molekular. Jakarta: Erlangga.

praktikum 2

praktikum2 penkom Untitled Untitled2 Untitled2 Untitled3 Untitled4

about myself :)

Holaaaaa :) Selamat datang di dunia gue :p hemmm sebenernya gue udah punya beberapa blog yang banyak postingannya. Nah berhubung udah lama ga nge-blog lagi, otak gw ini tiba-tiba saja lupa semua password blog2 itu -__- #hupet Yasudahlah yaa, yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang saatnya menjalani hari-hari baru di blog ini :3 #eaaaa Okeee, ga usah basa-basi lagi nih ya, perkenalkan nama gue I D.A. Ayu Carlita Ardyani. Orang-orang biasa manggil gue Carlita, Carlottt, Cirip, Lita, Carli, Carlo, Carl, dan masih banyak lagi -__- Saking banyaknya, gue aja sampe ngakak sendiri kalo denger panggilan-panggilan itu hahaha. Tapi gatau kenapa gue seneng aja kalo dipanggil dengan berbagai sebutan diatas, berasa eksklusif gimana gitu #apasihgajelas hahaha Gue itu anak pertama dari dua bersaudara. Gue punya seorang ade yang namanya I D.A Made Seila Ardyari yang sekarang lagi kuliah di IT Telkom Bandung. Kalo gue, kuliah di Institut Pertanian Bogor Jurusan Biokimia di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Kata orang-orang sih pelajaran kimia itu adalah pelajaran yang paling “HOROR” dengan behind the scene guru killer yang menambah keangkeran pelajaran itu. Tapi gatau kenapa gue itu sukaaaa banget sama pelajaran kimia :) mungkin karena guru SMA gue itu the expert banget kali ya ngajarnya, sampe-sampe gue jatuh hati sama pelajaran unik dan rumit itu :3 Hemmm kalo denger nama “biokimia” pasti terlintas kata biologi dan kimia. nah, that’s right beybeh. Selain suka pelajaran kimia, gue juga hobi banget baca seputar dunia makhluk hidup. Kenapa ?? menurut gw, di dalam tubuh makhluk hidup itu ada ribuan bahkan jutaan pengetahuan yang bisa buat gue tercengang saat baca anything about it ;;) Alasan lain ya mungkin karena waktu jaman unyu-unyu alias jaman SD gue punya cita-cita mulia sebagai seorang dokter hihihi Mulai dari situ gue suka hunting buku ensiklopedia tentang makhluk hidup atau bahkan gue suka baca buku-buku kesehatan gitu. Tapi berhubung cita-cita itu pupus tengah jalan karena satu dan lain hal, gw beralih ke biokimia yang notabennya juga ada pelajaran seputar kedokteran :D Sekarang gue udah semester 4 :D Selama kuliah di IPB, gue seneng banget karena bisa mempertahankan IP perdana biar ga terjun payung di semester berikutnya dan bahkan sampe sekarang IP gue selalu naik tiap semesternya :) *ini bukan sombong ya* Gue juga bisa dibilang sebagai anak yang aktif bahkan hiperaktif dalam kegiatan kampus, misalnya organisasi ataupun kepanitiaan. Mau tau se-hiperaktif apakah gue itu ? nantikan postingan gue selanjutnya :) hehehe see you :)

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!